APP ECONOMY AND API

BAGAIMANA PERKEMBANGAN APP ECONOMY DI INDONESIA?

Image result for app economy

Tak bisa kita dipungkiri bahwa perkembangan teknologi sangatlah cepat. Didukung oleh adanya infrastruktur komunikasi yang baik, rupanya menjadi pintu masuk orang Indonesia ke internet. Pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 175,4 juta dengan penetrasi mencapai 64 persen. Itu artinya, dari total 272,1 juta populasi di Indonesia, sebesar 64 persennya telah terkoneksi internet.

Hasil itu diketahui dari riset terbaru dari layanan manajemen konten HootSuite dan agensi pemasaran media sosial We Are Social dalam laporan bertajuk “Digital 2020”. Hampir seluruh pengguna internet di Indonesia menggunakan perangkat mobile untuk berinternet. Pengguna internet mobile di Indonesia tercatat mencapai 171 juta atau sebesar 98 persen dari total pengguna internet.
Berikut merupakan Bagan Pengguna Smartphone di Indonesia 2016-2019

Bisa dibilang, berbagai aspek dalam hidup di zaman sekarang ini sangat bergantung pada berbagai aplikasi mobile yang menawarkan berbagai kemudahan. Direktur Regional INSEA App Annie Jaede Tan dalam helatan Decode Jakarta beberapa waktu lalu mengatakan bila kondisi ini telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia.

Ketergantungan orang terhadap aplikasi mobile rupanya membawa keuntungan yang tidak sedikit. Bahkan, Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu “lahan subur” untuk berkembangnya app economy. 

App economy adalah perekonomian berbasis aplikasi yang kini mulai berkembang, seiring dengan pertumbuhan aplikasi mobile yang semakin pesat.

Beberapa contoh app economy adalah, penggunaan aplikasi e-commerce untuk perbankan, traveling, dan berbelanja, seperti Tokopedia yang menduduki peringkat pertama aplikasi belanja yang digunakan di Indonesia. Selain itu, keuntungan yang diperoleh dari iklan maupun in-app purchase pada game, juga termasuk contoh lain dari app economy.

Image result for app economy

Berdasarkan laporan yang dilansir App Annie 2017 Retrospective: A Monumentral Year for the App Economy, dijelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu pengguna aplikasi mobile paling aktif di dunia. Indonesia berada di jajaran teratas bersaing dengan negara-negara yang sudah lebih maju seperti Tiongkok, India, Brazil dan Korea Selatan.

Lama penggunaan aplikasi mobile tersebut hampir mencapai 250 menit (atau lebih dari empat jam) dalam satu hari. Tingkat keaktifan pengguna aplikasi mobile di Indonesia ini mengungguli Meksiko, Brazil dan Korea Selatan yang berada di angka 190 menit per hari.

Menariknya, meski Indonesia unggul dalam penggunaan aplikasi dalam hitungan harian, total penggunaan aplikasi mobile Indonesia secara total durasi belum bisa menyaingi Tiongkok. Sebab masyarakat Tiongkok menggunakan aplikasi secara total mencapai 200 miliar jam pada kuartal keempat 2017. Indonesia berada di posisi keempat di bawah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Hal ini wajar terjadi karena penetrasi pengguna ponsel pintar di Tiongkok sudah mencapai lebih dari 50% penduduk, artinya telah ada 700 juta lebih penduduk Tiongkok yang menggunakan ponsel pintar.

Sektor teknologi finansial di Indonesia pun berdasarkan laporan ini tampak membanggakan, karena Indonesia menjadi negara tertinggi dunia dalam hal pertumbuhan adopsi aplikasi keuangan. Itu artinya aplikasi keuangan atau mobile banking di Indonesia sangat mudah diadopsi oleh para pengguna ponsel pintar di Indonesia. Indonesia berada di peringkat pertama dengan angka mencapai 210%, diikuti oleh Brazil dengan 190% pertumbuhan kemudian Rusia diposisi ketiga dengan angka 120%.

Laporan ini tentu saja memberikan gambaran bagaimana aplikasi ponsel pintar di Indonesia mendapatkan perhatian yang besar diantara para pengguna gawai di Tanah Air. Ponsel pintar tanpa aplikasi tentu saja tidak akan mampu berfungsi secara optimal, jadi app developer harus bersaing mendapatkan hati pengguna aplikasi karena hanya beberapa aplikasi saja yang akan terus digunakan.

Tidak hanya app developer saja yang kebanjiran untung. Bisnis lain pun merasakan hal yang sama. Salah satunya adalah gerai kopi terkenal asal Amerika Serikat, Starbucks. Sebanyak delapan persen total transaksi dari dua puluh gerai terpadat mereka, ternyata didapatkan dari aplikasi mobile Starbucks.

Image result for starbucks mobile app

Indonesia sendiri menjadi negara dengan peluang besar dalam pertumbuhan dan perkembangan sharing economy. Model bisnis semacam ini mulai ngetren di Indonesia, salah satunya terlihat dari peningkatan on-demand applications (aplikasi) dan menyebabkan disrupsi.

Istilah sharing economy merujuk pada model bisnis yang menggabungkan beberapa pihak, aset dan berbagi keuntungan bersama. Istilah ini juga bisa disebut dengan banyak definisi, mulai dari open source, online collaboration, file sharing, hingga peer-to-peer transaction.

Dari perspektif ekonomi, sharing economy atau collaborative consumption adalah sebuah proses mengoptimalisasi sumber daya melalui sebuah sistem teknologi.

Hal tersebut dikarenakan populasi penduduk Indonesia yang sangat besar mencapai 252 juta jiwa, sehingga memungkinkan bertumbuhnya peluang bisnis dan investasi terutama di industri teknologi dan informasi. Terlebih banyak problem di tanah air yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Masyarakat akan memanfaatkan model bisnis sharing economy untuk mengatasi ketidakefisienan.

Di Indonesia, banyak perusahaan teknologi yang mengadopsi model bisnis ini. Awalnya popular di sektor transportasi, seperti Go-Jek, Uber dan Airbnb, yang kini telah menjadi popular di sektor wisata. Platform-platform ini memberikan solusi atas ketidakefisienan.

Image result for gojek uber air bnb

Para milenial yang menjadi salah satu penggerak ekonomi digital terbesar di Indonesia paling meminati layanan digital atau e-commerce. Sesuai riset bersama IDN Research Institute dan Alvara di awal tahun 2019, kelompok milenial Indonesia merupakan digital natives karena 98,2% telah memakai smartphone untuk mengakses internet.

Di sisi lain pada 2020, populasi generasi milenial akan menjadi yang terbesar dan akan terus mendominasi hingga 2035. Pada tahun depan, sebanyak 34% penduduk Indonesia merupakan kelompok millennial.

“Sejalan dengan hal tersebut, transaksi e-commerce di Indonesia diperkirakan mencapai USD130 miliar atau setara Rp1.700 triliun, naik tajam dibandingkan tahun 2016 dan 2013 yang sebesar USD20 miliar (Rp 261 triliun), USD8 miliar (Rp 104 triliun),” bunyi pernyataan resmi perusahaan riset asal Indonesia, Alvara Research Center, Kamis (11/7/2019).

Dalam kategori Aplikasi Transportasi, tercatat Go-Jek lebih banyak digunakan oleh 70,4% responden dibanding Grab 45,7%. Hal ini terungkap dalam hasil penelitian berjudul “Perilaku dan Preferensi Konsumen Milenial Indonesia terhadap Aplikasi E-Commerce 2019” yang diselenggarakan oleh perusahaan riset asal Indonesia, Alvara Research Center.

Riset Alvara menampilkan data bahwa minat konsumen terhadap Go-Jek berkaitan dengan kualitas layanan yakni Mudah Digunakan (13,9%), Lebih Cepat (11,2%), dan Aplikasi Termurah (8,8%).

Image result for gojek vs grab

Pada kategori aplikasi Pesan-Antar Makanan, Go-Food mendominasi pasar pesan-antar makanan karena jauh lebih banyak digunakan oleh konsumen atau 71,7%, dibanding GrabFood 39,9%. Terkait aplikasi pesan-antar makanan itu, responden boleh memilih dua aplikasi.

Mayoritas milenial juga memilih Go-Food karena aspek kualitas layanan, sedangkan GrabFood lebih diasosiasikan dengan harga dan promo murah. Konsumen lebih banyak merekomendasikan Go-Food dengan skor net promoter 14,9.

Image result for ovo goyap dana

Terkait penilaian Aplikasi Pembayaran Digital, Brand Awareness Go-Pay mencapai 100% di kalangan milenial. Angka ini mengungguli para pemain lain seperti OVO yang berasosiasi dengan Grab (96,2%), Dana (50,3%), PayTren (47%), LinkAja (35%).

Go-Pay juga paling banyak digunakan oleh 67,9% responden, dibanding dengan pemain aplikasi pembayaran digital sejenis. Konsumen juga lebih mempromosikan Go-Pay dibanding aplikasi pembayaran digital sejenis. 

Sementara aplikasi ciptaan anak negeri lainnya seperti Traveloka memimpin di kategori pemesanan hotel dan tiket.

Apabila edukasi dan persiapan terlaksana dengan baik, dalam beberapa tahun ke depan Indonesia akan menjadi salah satu negara yang terdepan dalam ranah mobile dan app economy.

Apa itu API?

Bisnis konten dan apps saat ini berkembang sangat cepat, penyedia layanan bersaing untuk mempromosikan produknya, salah satu caranya adalah membuat API (application programming interface). API dibuat untuk memudahkan integrasi layanan dengan layanan pihak lain (partner atau pihak ketiga), sehingga semakin banyak yang menggunakan layanan tersebut.

Disisi lain API merupakan satu sarana untuk mengkoleksi data-data yang berguna untuk analisa perilaku individu maupun pasar. Tidak hanya itu API juga digunakan untuk membuat software dan aplikasi oleh para developer. API dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari seperti saat anda memesan hotel, mengirimkan pesan, memesan makanan secara online maupun ketika mengunduh sebuah software. Bagaimana hal tersebut terjadi? Prosesnya seperti ini, ketika anda menggunakan aplikasi maupun melakukan aktifitas tersebut, aplikasi terhubung ke internet dan mengirimkan data ke server. Setelah itu, data tersebut diambil dan diterjemahkan oleh server yang kemudian melakukan aksi yang diperlukan sebagai hasilnya kemudian dikirimkan kembali ke smartphone anda. Setelah menerima data tersebut, aplikasi menerjemahkannya lalu memberikan informasi yang anda inginkan dengan cara yang mudah dibaca. Dengan adanya API semua dapat berjalan dengan lancar dan memudahkan.

KENAPA MENGGUNAKAN API?  

API memiliki peran yang sangat penting dalam teknologi. API membuat pemrograman menjadi lebih mudah dan mungkin. Mempercepat pembuatan suatu aplikasi karena programmer tidak perlu menulis kode dari nol. Seperti yang sudah disebutkan di atas, kebutuhan kita sebagai pelanggan dan khususnya bagi developer sangat dimudahkan dengan adanya API. Peran API juga dapat digunakan untuk membuat tampilan sebuah aplikasi menjadi interaktif, mudah untuk digunakan, dan bersahabat untuk pengguna. Tidak hanya itu, API juga digunakan untuk berkomunikasi antara layanan-layanan. Fungsi: (Driver inovation, marketing channel, distribution channel, bisnis development, upsell opportunity, increase footprint, mobile support, content acquisition, drive traffic, increase stickiness and experience, extend product, dll)

Keuntungan menggunakan API Bagi Para Developer Antara Lain:

1.       Aplikasi: API membantu kinerja dari aplikasi lebih cepat dan fleksibel seperti layanan dan informasi yang diberikan karena API dapat memasuki komponen-komponen aplikasi.

2.       Kustomisasi: Dengan API, kustomisasi untuk konten dan layanan dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan keinginan.

3.       Fleksibel: API membuat layanan menjadi lebih fleksibel. Hal tersebut karena API mendukung data migrasi lebih baik dan informasi yang didapat ditinjau lebih dekat.

4.       Integrasi / integration: API dapat menjamin pengiriman informasi lebih lancar dikarenakan API memungkinkan konten tertanam dari aplikasi maupun situs dengan mudah. Hal tersebut memberikan pengalaman yang terintegrasi bagi pengguna.

5.       Lebih banyak data: API memberikan banyak pilihan karena semua informasi yang dihasilkan di tingkat pemerintah tersedia untuk setiap warga negara.

APA SAJA CONTOH API?

Image result for twitter facebook telegram LINE

Contoh dari API lintas platform adalah API Twitter dan Facebook, yang memungkinkan kita untuk dapat mengakses data pengguna platform tersebut pada aplikasi kita. Contoh lain seperti API Bot Telegram dan LINE yang memungkinkan aplikasi kita untuk dapat mengirim dan membaca chat dari pengguna platform tersebut secara otomatis. Berkunjung ke toko online sambil terus berbelanja menggunakan kartu debit atau kredit, Contoh lain dari penerapan ini adalah terkoneksinya Google Maps ke dalam aplikasi. Misalnya aplikasi transportasi online, peta yang digunakan menggunakan API dari Google Maps sehingga pebisnis digital bisa memperoleh banyak manfaat dari keberadaan API tersebut.

Pengembang aplikasi seluruh dunia menggunakan API untuk menekan biaya layanan data yang real time. Dengan API, pengembang juga memungkinkan memasang API dari layanan pembayaran sehingga memungkinkan konsumen bisa langsung membayar sesuatu dengan lebih mudah dan cepat. Batasnya hanya satu, imajinasi dari pengembang aplikasi saja.

API BUSINESS MODEL

FREE: Model bisnis berbasis API sederhana yang memungkinkan pengembang aplikasi mengakses API secara bebas. Misalnya, Facebook. Sebagian besar API sektor pemerintah dan publik juga mempraktikkan model bisnis ini.


DEVELOPER PAYS: Beroperasi dalam bentuk di mana pengembang aplikasi harus membayar layanan yang disediakan oleh API tertentu. Kemudian pada 2013, ini diperluas menjadi lima model yang berbeda sebagai berikut.


a. Pay as you go – Pengembang harus membayar hanya untuk layanan yang benar-benar mereka gunakan melalui API. Ada rencana penetapan harga yang tersedia dalam model bisnis ini bagi pengembang untuk mengetahui harga pasti yang harus mereka bayar dan tidak ada harga minimum yang ditentukan.
b. Tired– Pengembang diperbolehkan memilih option yang sesuai berdasarkan konsumsi mereka. seperti API calls per tier, Subscribed applications and etc
c. Freemium – Model ini beroperasi karena pengembang dapat menggunakan layanan gratis dengan fitur dasar. Jika mereka ingin menggunakan fitur tambahan, mereka harus membayar dan menggunakannya.
d. Unit-based – Menawarkan berbagai fitur (unit) dengan harga berbeda.
e. Transaction Fee – Model ini sebagian besar digunakan oleh API pembayaran di mana pengembang harus membayar persentase dari jumlah transaksi yang terjadi melalui API.

DEVELOPER GETS PAID: Model ini merupakan cara lain untuk membayar Pengembang, di mana Pengembang dibayar untuk penggunaan API mereka.

a. Revenue Share – Pengembang dibayar beberapa bagian dari total pendapatan yang dihasilkan dari pembelian pelanggan.
b. Affiliate – Pelanggan diizinkan menunjuk pengembang dan berdasarkan afiliasi yang diakui, pengembang dibayar. Ini dapat dilihat di Program Afiliasi Amazon. Pembayaran ini dikategorikan ke dalam subkategori seperti CPA, CPC, Referral Sign-up (Satu Kali dan Berulang) berdasarkan metode referensi mereka.

INDIRECT: model yang tidak langsung menghasilkan uang dari API. Mencakup empat sub-kategori termasuk Pengambilan Konten, SaaS, Sindikasi Konten, dan Penggunaan Internal.

a. Content Acquisition – Model ini terutama ditargetkan untuk memperoleh konten dan mendistribusikannya melalui berbagai API / aplikasi pihak ketiga untuk pertumbuhan bisnis.
b. Saas – Model ini memungkinkan perusahaan membayar lisensi perusahaan dan mengakses API khusus yang tersedia di platform.
c. Content Syndication – Konten dapat disindikasikan kepada mitra dengan menggunakan API menggunakan model bisnis ini.
d. Internal Use – Model ini menawarkan bisnis untuk menggunakan API untuk mendukung bisnis mereka sendiri / unit bisnis internal.

Sama seperti halnya dengan jaringan, API juga harus tetap dimonitor sebagai tujuan melihat respon yang layak, ketersediaan dan performanya. Hal ini sangat membantu dalam melihat keadaan API jika performanya sedang kurang baik, lemahnya panggilan API yang  menyebabkan kegagalan pada aplikasi, serta website yang gagal yang dapat menyebabkan pengalaman buruk bagi pengguna.

Sumber:

https://kalimantan.bisnis.com/read/20170926/435/692885/industri-telekomunikasi-indosat-masuk-bisnis-api

https://www.codepolitan.com/forum/thread/detail/2/apa-itu-api

https://www.digination.id/read/01774/peluang-besar-sharing-economy-di-indonesia

https://id.techinasia.com/pertumbuhan-app-economy-di-indonesia

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/29/indonesia-tempati-peringkat-pertama-negara-teraktif-menggunakan-aplikasi-mobile

https://economy.okezone.com/read/2019/07/11/320/2077413/hasil-riset-gojek-jadi-e-commerce-yang-paling-diminati

https://tekno.kompas.com/read/2020/02/20/14090017/penetrasi-internet-di-indonesia-capai-64-persen

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/08/pengguna-smartphone-di-indonesia-2016-2019

API Business Model ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: